"Dalam Hidup Santai Hampir Tidak Ada"

Tuesday, February 16, 2021

Sastra vs Sains: Berpikir Kritis & Multidisiplin untuk Masa Depan Bangsa

Stadium Generale-5

Pembicara : Okky Madasari (Sastrawan & Kandidat P.hD National University of Singapore)

ITB 1920-1921 terdapat 28 Mahasiswa 2 diantaranya Indonesia.  Fakta sejarah dan Sosiologis pada masa lalu , ITB didirikan oleh kolonial untuk kepentingan kolonial pasca PDI, Pemerintah kolonial tak merancang Indonesia untuk maju dalam industri manufacture, Sistem Industri yang dimulai di Eropa abad 18 berimbas pada kebijakan tanam paksa dan pengerukan SDA, Myth and Stereotype: Stereotype dan mitos sengaja diciptakan. Dan Van den bosch (1830) saat itu mengungkapkan bawasanya Intelektualitas masyarakat di Jawa setara dengan anak umur 12-13 tahun dan orang Jawa malas, tak mau bekerja kalau tak dipaksa.

Fakta-fakta sejarah memberikan dampak bagi Indonesia dan tentu itu merupakan sebuah tantangan. Akibatnya yaitu Internalisasi sterepotype&mitos, Inferiority complex: rendah diri, merasa kita tak sepintar orang luar dan tak mampu bersaing, Captive mind: mental terbelenggu, Secara struktural akibat dari penjajahan dan semua sistem yang diciptakan di masa dulu menyebabkan pula Ketergantungan: Akademik, ekonomi, industri dan Kontrol atas pengetahuan oleh kekuasaan global, kekuasaan negara, dan kekuasaan agama.

Memandang tantangan hari ini tak bisa dilepaskan dari aspek sejarah dan sosiologis yang membentuknya, Memahami sejarah dan situasi sosiologis memungkinkan kita untuk melihat big picture, untuk memahami kompleksitas situasi, hanya dengan memahami kompleksitas situasi, kita bisa berinovasi dan menawarkan solusi. Pada Revolusi Industri 4.0 Musatahil tanpa memahani sejarah dan kondisi sosiologis. Sastra bercerita dengan kehidupan, manusia dan lengkap dengan konteksnya, manusia ada dalam konteks masyarakat.

Karya sastra yang mengubah wajah dunia yaitu Max Havelaar karya Multatuli. Multatuli merupakan seorang Belanda dan cikal bakal politik etis terbitnya novel Max Havelaar. Adapun Karya sastra Student Hidjo secara umum isinya menyindir pada sikap para kaum terpelajar pribumi yang alih-alih berjuang untuk bangsanya mereka jadi inferiority complex dan mereka penuh kemunafikan dan mereka bangga menjadi bagian eropa, dan Bumi Manusia isinya seorang terpelajar sudah adil sejak dalam pikiran, yang bisa sekolah di stopia. Kemudian, Buku Kerumunan terakhir karya ibu Okky Madasari yang isinya mengkritik masa kini. Kritik atas kehidupan virtual, kritik atas kedangkala, kepalsuan, mental ikut-ikutan, dan konsumerisme.

Peran sastra

1.     Big picture

Sastra menyodorkan kehidupan. Kisah manusia ditempatkan dalam konteks sosiohistorical, sastra membantu untuk melihat big picture.

2.     Questioning

Selalu mempertanyakan yang dianggap kenormalan dan Selalu melihat  yang tak tampak di muka bumi.

3.     Creativity

Akan selalu hadir dengan kebaruan isi dan bentuk

Indonesia masa depan

Agar revolusi Industri tidak hanya jadi jargon semata apalagi hanya jadi judul seminar, kita perlu membenarkan dulu cara berpikir kita, kita membenarkan dulu pemahaman kita tentang kondisi sosiologis dan historis kita, lalu kita mencoba merumuskan sebenarnya apasih yang dibutuhkan bangsa kita. Terlepas dari jargon 4.0, yang di butuhkan oleh bangsa kita yaitu  Kreativitas, Inovasi, Kemandirian sebagai sebuah bangsa, kemandirian dalam berpikir dan kemandirian dalam menciptakan sesuatu bukan sekedar konsumen, bukan sekedar penghasil bahan mentah dan yang terakhir yang dibutuhkan bangsa kita yaitu keberpihakan pada kemanusiaan.

Sastra vs Sains : Ilmuwan yang tak membaca karya sastra hanya akan menghasilkan gagasan kering, tak inovatif, tak punya jiwa, dan tak menyuarakan kemanusiaan. Sastra memberi arah kemana sains akan menuju - Okky Madasari (Seniman  dan P.hD Candidate National University of Singapore) 17 Feb 2021.

 Resume oleh: Alvaz Adnan Naufal 15119078 (Teknik Geodesi dan Geomatika)

No comments: